Minggu, 10 September 2017

Thariqat NU Gelar Dzikir Akbar dan Mawlid

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw
Jamiyah Ahlith-Thariqah al-Mutabarrah an Nahdliyyah akan menggelar Dzikir akbar dan Mawlid bersama Ketua Majlis Tinggi Islam Amerika (ISCA) Shaykh Muhammad Hisham Kabbani.

Acara yang akan digelar Ahad, (17/7) pukul 07:30-10:30 WIB itu juga dihadiri oleh Rois Am Jamiyah Ahlith-Thariqah al-Mutabarrah an Nahdliyyah, Habib Luthfi bin Yahya, para Habaib serta Ulama Indonesia dan para pengikut thariqat Naqsyabandiyah yang ada di tanah air. Rencananya acara bertempat di Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia Jakarta.

Shaykh Hisham dikenal memiliki jutaan pengikut yang tersebar di beberapa negara. Ia seorang Ulama Ahl-sunnah wal jamaah dengan wawasan dan pengalaman luas, serta memiliki pengaruh dakwah yang signifikan baik di tempat asalnya Beirut, dan Internasional. Beliau adalah keturunan Nabi Muhammad SAW baik dari jalur Ayah ataupun Ibunya.

Di Indonesia Syaikh Hisyam dikenal sebagai pemimpin tinggi tharikat Nasqabandiah yang berpengaruh luas di Indonesia, Malaysia dan beberapa negara lainnya. Kedatangannya ke Indonesia bukan yang pertama kali, sebelumnya, dalam Acara seminar International Conference of Islamic Scholars (ICIS) yang digagas NU akhir Februari lalu, Hisyam Kabbani sempat memimpin doa bersama Prof. Wahbah Zuhaili (Syria) dan Ayyatullah Thaskiri (Iran).

"Istighotsah itu bukan kepentingan NU semata, namun akan mendoakan masyarakat dan negara Indonesia juga, bahkan untuk perdamaian dunia. Jadi, istighotsah bukan sekedar kepentingan NU, tapi bangsa, negara, dan dunia," kata panitia penyelenggara dalam siaran persnya yang dikirim ke Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw, Kamis, (14/7).

Ditambahkan panitia, acara ini terselenggara berkat kerjasama Jamiyah Ahlith-Thariqahal-Mutabarrah an Nahdliyyah, Manajemen Masjid Baitul Ihsan Jakarta, dan Yayasan Haqqani Indonesia.(cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw Pahlawan, Doa Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Thariqat NU Gelar Dzikir Akbar dan Mawlid (Sumber Gambar : Nu Online)
Thariqat NU Gelar Dzikir Akbar dan Mawlid (Sumber Gambar : Nu Online)

Thariqat NU Gelar Dzikir Akbar dan Mawlid

Kamis, 07 September 2017

NU Memandu Bangsa: Refleksi Hari Pramuka dan HUT RI

Oleh Fathoni Ahmad

Hari Pramuka diperingati setiap tanggal 14 Agustus yang hiruk pikuknya satu rangkaian dengan Hari Ulang Tahun (HUT) RI tanggal 17 Agustus. Adapun Hari Pramuka di tahun 2016 ini merupakan peringatan yang ke-55 tahun, sedangkan HUT RI sudah mencapai ke-71 tahun. Selama sekian tahun lamanya, wadah para Praja Muda Karana ini telah memberikan pendidikan karakter dan kreativitas nyata supaya generasi muda mencintai dan berkarya untuk negerinya dalam usaha memperkokoh kemerdekaan.

NU Memandu Bangsa: Refleksi Hari Pramuka dan HUT RI (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Memandu Bangsa: Refleksi Hari Pramuka dan HUT RI (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Memandu Bangsa: Refleksi Hari Pramuka dan HUT RI

Manusia Pancasila. Ya, itulah sebutan bagi para aktivis Pramuka yang tertuang dalam salah satu bait lagu Hymne Pramuka. Misi mulia dalam mengembangkan kreativitas, memperkokoh daya juang, meneguhkan kecintaan para pemuda kepada bangsa dan negaranya menjadikan Pramuka mempunyai misi dan tujuan utama yang sama seperti di Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Penulis tidak bermaksud membandingkan antara Pramuka dan NU, melainkan menarik simpul bahwa kewajiban mencintai bangsa dan negara merupakan tujuan bersama yang tidak boleh padam dan harus terus berkobar seperti semangat dalam filosofi api unggun.

Keberhasilan perang dalam menegakkan kemerdekaan yang dilakukan oleh para santri, kiai, dan masyarakat Indonesia harus diteruskan dengan cara mencintai negerinya dan berupaya keras mengisi kemerdekaan dengan kegiatan produktif, mencapai prestasi terbaik, serta merawat identitas bangsa. Merawat identitas bangsa ini tidak berpijak pada keseragaman, tetapi justru berangkat dari keberagaman. Dari titik-titik keberagaman itulah bangsa Indonesia yang plural mampu menyatukan diri secara kokoh melalui pondasi bernama Pancasila.?

Tujuan bersama tersebut mempunyai konsekuensi bahwa jika ada pihak-pihak tertentu yang berupaya memecah belah kesatuan bangsa dengan menebarkan kebencian atas nama agama dan sektarianisme, secara tegas harus dilawan. Namun, karena bangsa Indonesia mempunyai keluhuran dalam budi pekerti seperti yang diajarkan oleh para leluhur, proses melawannya pun tidak boleh dengan cara-cara merusak atau dengan menyerang balik secara frontal. Namun, perlawanan cukup dengan cara terus memperkuat kebersamaan di tengah keberagaman dengan saling menghormati. Kemudian, menjaga kelestarian tradisi dan budaya juga menjadi usaha yang tidak kalah pentingnya untuk memperkuat persatuan dari rongrongan kolonialisme modern berkedok agama.

Pandu Tanah Air

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Misi memperkuat generasi muda dengan kesadaran akan negerinya begitu penting sehingga harus terus dilakukan oleh Pramuka sebagai gerakan kepanduan seperti yang dilakukan oleh kalangan pesantren sejak 600 tahun yang lalu. Gerakan kepanduan juga tidak lepas dari sejarah NU dan para pemudanya. Bahkan wadah peningkatan kapasitas generasi muda terus dilakukan NU hingga saat ini.

Pada tahun 1924, berawal dari KH Abdul Wahab Chasbullah yang kala itu bersama Abdullah Ubaid merintis organisasi kepemudaan Syubbanul Wathan (Pandu Tanah Air). Kemudian juga membentuk organisasi Ahlul Wathan (Pandu Tanah Air). Dua organisasi ini yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya GP Ansor dan Banser. Ahlul Wathan yang berjumlah ratusan anggota ini dipimpin oleh Inspektur Umum Kwartir Imam Sukarlan Suryoseputro.

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Ketika itu, latihan yang dilakukan seperti pendidikan baris berbaris, lompat dan lari, angkat mengangkat, ikat mengikat (Pionering), Fluit Tanzim (belajar kode/isyarat suara), isyarat dengan bendera (morse), perkemahan, belajar menolong kecelakaan (PPPK), Musabaqoh Fil Kholi (Pacuan Kuda), dan Muromat (melempar lembing dan cakram). Setelah berdiri Anshoru Nahdlatul Ulama (ANU) pada tahun 1934, yang kemudian berganti nama menjadi Gerakan Pemuda (GP) Ansor, kepanduan dijadikan sebagai salah satu perangkat organisasi bernama Pandu Ansor.

Pandu Ansor ini pernah beberapa kali menggelar kegiatan Djambore Kepanduan Ansor yang diikuti perwakilan Pandu Ansor se-Indonesia dan Cabang Istimewa NU di beberapa negara seperti Singapura, yang pernah mengikutinya pada gelaran Djambore Kepanduan Ansor ke-3 yang dihelat di Jakarta. Bahkan Pandu Ansor pernah mengukir kebanggan bangsa Indonesia dengan ikut andil dalam Djambore Dunia. Mereka menjadi salah satu perwakilan Kontingen Pandu Indonesia untuk dikirim mengikuti DJambore Pandu Dunia ke-X di Makiling, Los Banos (Laguna) Filipina, 17-26 Juli 1959.

Pada tahun 1950-an hingga 1960-an, wadah kegiatan seperti Pandu Ansor bersama Drum Band Pemuda Ansor dan Banser menjadi magnet sendiri di kalangan para pemuda untuk tertarik masuk ke dalam Ansor atau NU. Pada perkembangannya, seiring dengan terjadinya dinamika pada gerakan pandu di Indonesia, pada tahun 1961 seluruh organisasi kepanduan di Indonesia, termasuk Pandu Ansor, melebur menjadi satu dalam wadah bernama Pramuka.

Memandu bangsa mencintai negeri

Gerakan kepanduan yang menjadi aktivitas para pemuda NU itu tidak hanya berupaya memperkokoh jiwa dan mental generasi muda, tetapi juga menularkan virus cinta tanah air seperti yang menjadi tujuan utama Syubbanul Wathan. Hal ini menunjukkan bahwa perjuangan kalangan pesantren dilakukan secara konsisten dalam memandu bangsa Indonesia, baik ketika masa penjajahan maupun pasca kolonialisme saat seorang KH Abdul Wahid Hasyim, ayah Gus Dur ikut merumuskan dasar negara berupa Pancasila dan UUD 1945.

Peran NU dan kalangan pesantren bukan tanpa jejak historis dalam meneguhkan perdamaian bangsa dan memperkuat negara. Hal ini dibuktikan ketika ada seorang atau kelompok yang berusaha merongrong Pancasila, NU selalu terdepan dalam menghadapinya. Bahkan organisasi sosial keagamaan dan kemasyarakatan ini secara berkelanjutan memberikan penyadaran bahwa kecintaan warga negara terhadap tanah air berperan penting dalam mengokohkan eksistensi bangsa dan negara. Hal ini sesuai dengan fatwa hubbul wathani minal iman (mencintai negara adalah sebagian dari iman) yang dideklarasikan KH Hasyim Asy’ari beberapa dasarwarsa yang lalu.

Penulis menegaskan bahwa hal ini bukan afirmasi buta terhadap jasa-jasa NU. Karena kondisi riil di lapangan secara nyata dapat dilihat bahwa NU telah menjadi gerakan civil society yang mampu memperkuat negara. Bayangkan jika kekuatan organisasi Islam terbesar di dunia ini tidak mempunyai pandangan moderat terkait kehidupan berbangsa dan bernegara, kesimpulan tesis ini bisa dilihat dalam gambaran konflik, perang, dan tragedi kemanusiaan yang amat mengerikan di Timur Tengah.

Setidaknya hal ini merupakan salah satu upaya dalam mengokohkan kesadaran cinta tanah air walaupun penulis sendiri menyadari bahwa banyak hal yang harus dilakukan agar problem-problem kebangsaan di Indonesia bisa di atasi dengan baik. Sebab masalah keadilan dan kesejahteraan sosial serta supremasi hukum masih belum menemukan titik terangnya sebagai upaya menjadikan Indonesia sebagai negara maju di tengah persaingan global yang makin keras seperti saat ini.

Apalagi melihat dinamika politik dari dulu hingga sekarang yang tidak pernah bisa memenuhi ekspektasi publik karena terlalu banyak kepentingan kelompok dan orang per orang yang dibawa dalam percaturan mengurus negara. Terkadang kondisi masyarakat yang kurang stabil yang disebabkan olehnya itu membuat tatanan masyarakat menjadi rapuh. Di titik inilah kelompok-kelompok pemecah belah bangsa menyusup untuk menyebarkan virus kebencian, biasanya instrumen yang digunakan dengan menghembuskan persepsi agama, keyakinan, dan paham-paham tertentu.

Dengan muwafaqah (kesamaan) antara NU dan elemen-elemen bangsa lain untuk menyajikan wajah Islam ramah dan menghargai sesama, memperingati semangat Hari Pramuka ke-55 dan HUT ke-71 RI harus dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia untuk terus memupuk dan meningkatkan kecintaan kepada bangsa dan negara. Langkah mudah yang dapat dilakukan untuk menjaga keutuhan bangsa yaitu dengan tetap lurus dalam memandang kenegaraan sebagai sebuah bangsa.?

Pandangan negara bangsa (nation state) tersebut terus dirawat oleh NU karena ada kecenderungan manusia ketika menjadi modern menghendaki negara ini salah satu di antara dua: lepas dari agama sama sekali (menjadi negara sekuler) atau negara dimotivasi oleh agama seperti gairah mendirikan khilafah secara ahistoris. Di titik ini NU mampu menjaga agama agar dapat mempersatukan kehidupan berbangsa dan bernegara. Mengemas Islam sebagai agama publik secara konsisten dilakukan NU agar agama tidak dipahami sebagai syariat buta dan simbol-simbol belaka. Esensi ini juga terdapat dalam 10 butir Dasa Dharma Pramuka yang di antaranya menyatakan bahwa Pramuka itu cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Salam Pramuka dan Dirgahayu Indonesiaku!?

Penulis adalah Dosen STAINU Jakarta, anggota Kaukus Penulis Aliansi Kebangsaan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw Sunnah Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Selasa, 05 September 2017

Agama belum Serius Dilibatkan dalam Penanganan Lingkungan

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw. Kerusakan lingkungan dan perubahan iklim menjadi persoalan dan keprihatinan bersama. Persoalan ini tidak bisa diatasi oleh pemerintah saja, tetapi harus melibatkan seluruh komponen.  

Sayangnya  agama belum dilibatkan secara serius dalam penanganan isu lingkungan secara internasional. Agama hanya dijadikan bagian kecil yang tidak penting dalam menumbuhkan kesadaran menjaga lingkungan, padahal terdapat nilai-nilai penting dalam agama yang memerintahkan penganutnya menjaga lingkungan.

Agama belum Serius Dilibatkan dalam Penanganan Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama belum Serius Dilibatkan dalam Penanganan Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama belum Serius Dilibatkan dalam Penanganan Lingkungan

Hal ini disampaikan oleh ustadz Nasrullah Jasam dalam acara Semiloka Peran Komunitas Agama dalam Memelihara Lingkungan, di Jakarta, Rabu (19/12). 

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

“Berbagai kesepakatan internasional terkait masalah lingkungan hanya berupa solusi materi, tidak pernah kesepakatan tersebut menyinggung pentingnya agama dalam menanamkan nilai-nilai akhlak dan memberikan peran aktif dalam penjagaan lingkungan,” katanya.

Islam dengan tegas memerintahkan umatnya untuk menjaga dan memelihara lingkungan, bahkan dalam situasi perang sekalipun seperti tidak boleh menebang pepohonan demi menjaga lingkungan, bukan untuk memberi peluang kepada musuh untuk memperkuat diri dengan pepohonan. Rasulullah juga melarang buang hajat besar ataupun kecil di tempat mengalirnya air dan tempat tumbuhnya pepohonan karena tempat tersebut sering digunakan untuk berteduh.

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Dalam konteks modern, juga terdapat kerusakan yang sebenarnya tidak tampak secara inderawi, tetapi dampaknya lebih dahsyat, seperti terjadinya radiasi dan polusi. 

Penganut agama, masih melihat ketaatan hanya sebatas ibadah mahdhoh atau ibadah yang ditujukan kepada Allah, sedangkan persoalan lain seperti kesadaran menjaga lingkungan, belum dianggap menjadi bagian penting dalam kehidupan.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sultonul Huda dari Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU). Agama hanya menjadi bagian kecil dalam penanggulangan bencana seperti memberikan trauma healing kepada korban bencana agar hatinya lebih tenang. Agama hanya dianggap menyangkut aspek batiniah, padahal agama juga bermanfaat untuk memcahkan berbagai persoalan sosial, yang sebagian menjadi akar dari persoalan berbagai bencana tersebut.

Ketua LPBI NU Avianto Muhtadi menyatakan persoalan yang terjadi dalam pengelolaan lingkungan karena implementasi. Belum ada koordinasi yang bagus diantara lembaga-lembaga pemerintah. Untuk penanganan bencana, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadi leading sektornya, tetapi koordinasi dengan kementerian lain tidak bisa berjalan dengan baik.

LPBI NU sendiri menjalankan program mulai dari advokasi sebelum terjadinya bencana sampai dengan pengelolaan pasca bencana. 

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw Pesantren Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Bendung Radikalisme, Pelajar NU Ketanggungan Gelar Diklatama

Brebes, Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw - Semangat nasionalisme dan patriotisme bagi pelajar NU Ketanggungan terus ditempa. Mereka digodok lewat Pendidikan Latihan Kader Pertama (Diklatama) yang digelar Dewan Koordinasi Anak Cabang CBP-KPP Ketanggungan, Kabupaten Brebes selama tiga hari.

“Diklatama ini untuk merangsang dan menumbuhkan semangat nasionalisme dan patriotisme,” ujar Pembina PAC IPNU Ketanggungan Ahmad Fauzan El-Azizi di sela acara di SDN Pamedaran 02 Ketanggungan, Senin (10/7).

Bendung Radikalisme, Pelajar NU Ketanggungan Gelar Diklatama (Sumber Gambar : Nu Online)
Bendung Radikalisme, Pelajar NU Ketanggungan Gelar Diklatama (Sumber Gambar : Nu Online)

Bendung Radikalisme, Pelajar NU Ketanggungan Gelar Diklatama

Menurut Fauzan, di kalangan Pelajar, mayoritas rasa nasionalisme dan patriotisme sudah mulai redup. Ia sangat miris tatkala pelajar yang notabene generasi penerus bangsa terbersit sikap apatis terhadap bangsanya sendiri. Apalagi di kalangan pelajar yang sudah tersusupi doktrin radikalisme, anti-Pancasila, anti-NKRI rasa nasionalisme dan patrotismenya sudah luntur.  Terbukti mereka enggan bahkan tidak mau melakukan uparacara bendera dan menganggap haram hormat pada Sang Merah Putih.

Lewat Diklatama, lanjutnya, peserta digugah jiwanya bagaimana menghormati jasa para pahlawan yang telah berkorban jiwa raga serta hartanya demi kemerdekaan Indonesia. Mengingatkan kembali bahwa para pejuang bangsa dulu juga terdiri dari para ulama dan santri yang berjuang lillahi taala.

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Ketua Panitia Diklatama 2 Arif Rahman Hakim menjelaskan, Diklatama diikuti 67 peserta yang berasal dari perwakilan ranting IPNU-IPPNU se-Ketanggungan. Selain materi kaderisasi, mereka juga mengadakan jalan panjang, tadabur alam menyusuri lembah bukit, sungai, hutan Pamedaran.

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Para peserta juga ditugaskan untuk menjaga dan mempertahankan bendera Merah Putih, sampai menangis tersedu sedan bahkan jatuh bangun tak peduli dipertahankan sekuat tenaga sebagai simbol perjuangan.

Diklatama mengambil tema Menggugah Jiwa Patriotisme dan Nasionalisme Pelajar NU untuk Kemajuan Indonesia.

Arif menilai, radikalisme sudah ada di depan mata, bibit-bibit, dan loyalis ISIS sudah menyebar di mana-mana. Hanya dengan mempertahankan ideologi Pancasila, NKRI, UUD 45, dan Bhineka Tunggal Ika, Ibu Pertiwi masih dalam pangkuan kita.

Salah seorang peserta Zahratul Munawaroh asal ranting Kubangsari merasa bangga dirinya bisa ikut kegiatan ini. Ia mengaku capai, tapi bisa menambah pengalaman berharga dalam hidupnya. Serta mampu menumbuhkan semangat nasionalisme dan patriotisme. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw Pertandingan, Nusantara, Sunnah Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Senin, 04 September 2017

HPN Utamakan Pengusaha Kecil

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw. Himpunan Pengusaha Nahliyin (HPN) menekankan para pelaku usaha kecil menengan (UKM) sebagai pihak yang paling diuntungkan dalam eksebisi Saudagar Fest 2013 yang digelar, 9-2 September, di Mall of Indonesia Kelapa Gading, Jakarta.

Hal ini disampaikan Ketua Bidang Promosi Pengurus Pusat HPN Anang Prabowo saat ditemui di lokasi pameran, Senin kemarin. Selain memamerkan produk, peserta Saudagar Fest 2013 juga dipersilakan menjual dagangannya.

HPN Utamakan Pengusaha Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)
HPN Utamakan Pengusaha Kecil (Sumber Gambar : Nu Online)

HPN Utamakan Pengusaha Kecil

Saudagar Fest 2013 akan diisi 100 stan yang menampilkan ratusan produk dan jasa yang menjadi bidang bisnis perusahaan dan UKM Nahdliyin dari seluruh Indonesia. “Dalam hal ini kita menggunakan sistem subsidi silang. Industri-industri besar kami mahalkan biaya sewa tempatnya, sementara yang kecil-kecil kita permurah biayanya,” tambah Anang.

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Menurut dia, sekitar 20 % stan bahkan digratiskan untuk memberi ruang kepada sejumlah lembaga di NU untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini. Stan yang meramaikan acara menyongsong peringatan satu abad Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Kaum Saudagar) ini terklasifikasi dalam kelas ekonomi, bisnis, dan eksekutif.

“HPN sangat terbuka dalam acara ini. Bahkan peserta yang terlihat banyak juga yang dari luar (NU),” tandas Anang yang juga ketua panitia perhelatan ini.

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Lokasi penyelenggaraan Saudagar Fest 2013 mulai ramai sejak Senin dan baru diresmikan Sabtu (14/9) oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Pihak panitia sedang berupaya menghadirkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo atau Jokowi dalam acara peresmian. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw Sholawat Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Sabtu, 02 September 2017

Jemaah Haji Indonesia Wafat Total 163 Orang

Makkah, Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw - Terhitung dari awal pemberangkatan jemaah haji gelombang pertama pada 9 Agustus lalu, saat ini penyelenggaraan haji sudah memasuki hari yang ke-40. Sebanyak 18 jemaah haji Indonesia hari ini kembali dilaporkan meninggal sehingga total jemaah yang wafat berjumlah 163 orang, terdiri dari 149 jemaah haji reguler dan 14 jemaah haji khusus.

Berdasarkan data Sistem Informasi Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kesehatan, Sabtu (17/9), pukul 07.00 Waktu Saudi, sebagaimana dilansir kemenag.go.id, tambahan 18 jemaah yang wafat berasal dari embarkasi Makassar (UPG), Surabaya (SUB/3), Solo (SOC/4), Medan (MES), Jakarta Pondok Gede (JKG/3), Jakarta Bekasi (JKS/2), Aceh (BTJ/2), Balikpapan (BPN),dan jemaah haji khusus.

Jemaah Haji Indonesia Wafat Total 163 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Jemaah Haji Indonesia Wafat Total 163 Orang (Sumber Gambar : Nu Online)

Jemaah Haji Indonesia Wafat Total 163 Orang

Berikut ini daftar lengkap 139 jemaah yang wafat:

1. Senen bin Dono Medjo (79). Embarkasi Surabaya (SUB) Kloter 007.

2. Siti Nurhayati binti Muhammad Saib (68). Embarkasi Aceh (BTJ) Kloter 002.

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

3. Martina binti Sabri Hasan (47). Embarkasi Batam (BTH) Kloter 006.

4. Khadijah Nur binti Imam Nurdin (66). Embarkasi Aceh (BTJ) Kloter 004.

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

5. Dijem Djoyo Kromo (53). Perempuan. Embarkasi Solo (SOC) Kloter 018.

6. Sarjono Bin Muhammad (60). Laki-laki. Embarkasi Batam (BTH) Kloter 006.

7. Oom Eli Asik (66). Perempuan. Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) Kloter 003.

8. Nazar Bakhtiar bin Batiar (82). Embarkasi Padang (PDG) Kloter 001.

9. Juani bin Mubin Ben (61). Embarkasi Aceh (BTJ) Kloter 006.

10. Asma binti Mian (78). Embarkasi Padang (PDG) Kloter 001.

11. Tasniah binti Durakim Datem (73). Embarkasi Padang (PDG) Kloter 003.

12. Jamaludin bin Badri Kar (58). Embarkasi Palembang (PLM) Kloter 005.

13. Abdullah bin Umar Gamyah (68). Embarkasi Aceh (BTJ) Kloter 001.

14. Rubiyah binti Mukiyat Muntari (71). Embarkasi Surabaya (SUB) Kloter 020.

15. Muhammad Tahir bin Abdul Razak (68). Embarkasi Batam (BTH) Kloter 011.

16. Siti Maryam binti Ismail (60). Embarkasi Solo (SOC) Kloter 001.

17. Misnawar bin Kasimo Kamujo (76). Embakarsi Surabaya (SUB) Kloter 015

18. Din Azhari Nurina bin Sadid (73). Embarkasi Padang (PDG) Kloter 005.

19. Noorsi Fatimah binti M Saleh Mardiwiyono (60). Embarkasi Balikpapan (BPN) Kloter 009.

20. Muhammad Nasir bin Abdul Hamid (64). Embarkasi Batam (BTH) Kloter 010.

21. Manih binti Siyan Muhammad (71). Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) Kloter 006.

22. Joko Pramono bin H Ali Pramono (41). Embarkasi Surabaya (SUB) Kloter 26.

23. Wahono Wilik bin Walijo Kartodimejo (65). Embarkasi Batam (BTH) kloter 002.

24. Udju Sumiati binti Marhati (62). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) Kloter 038.

25. Siti Fatonah Binti Supangat Kasmungin (68). Embarkasi Surabaya (SUB) Kloter 028.

26. Imam Rifai bin Ngali (60). Embarkasi Palembang (PLM) Kloter 005.

27. Suhaimi bin kadir Abdillah (62). Embarkasi Medan (MES) Kloter 005.

28. Siti Maskanah binti Djumri (66). Embarkasi Banjarmasin (BDJ) Kloter 013.

29. Zainabon binti Umar Muhammad (71). Embarkasi Aceh (BTJ) Kloter 008.

30. Awaludin bin Abu Sahar Tanjung (58). Embarkasi Medan (MES) Kloter 011.

31. Kadiran bin Molyadi Sokaryo (71). Embarkasi Surabaya (SUB) Kloter 022.

32. Yudha Arifin bin Kasah (55). Jemaah haji khusus.

33. Abdul Hamid bin Lapewa Palewa (53). Jemaah haji khusus.

34. Roman bin H. Maeji Suhaedi (58). Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) kloter 020.

35. Mochamad Subarjah bin Sumawinata R (64). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 048.

36. Taggi bin Haseng Maggu (57). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 048

37. Saifuddin bin Buchori Abdullah (64). Embarkasi Solo (SOC) kloter 003.

38. Semi Parsinah binti Wamu Adam (65). Embarkasi Aceh (BTJ) loter 002.

39. Siti Maryam binti Haram (79). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 020.

40. Aceng bin Nuroddin Hasyim (58). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 018.

41. Adisman Rasidin Salin bin St. Salam (63). Jemaah haji khusus.

42. Warniti binti Samadi Rimin (67). Embarkasi Solo (SOC) kloter 051.

43. Sukardi As Haryanto bin Abu Bakar (78). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 009.

44. Rukiyah bt Muhammad Arif Pane (62). Embarkasi Medan (MES) kloter 011.

45. Sumin Adinoto bn Suto Karso (73). Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) kloter 028.

46. Zahadi bin Muhayadin Asir (58). Embarkasi Palembang (PLM) kloter 007.

47. Imo binti Ahmad Umar (73). Embarkasi Lombok (LOP) kloter 006.

48. Carwit binti Karjani Sarip (51). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 037.

49. Mukijan bin Sodimejoh Muhammad (62). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 032.

50. Siti Sarah binti Abdul Kapi (53). Embarkasi Banjarmasin (BDJ) kloter 014.

51. Abdul Sani bin H Hayani (59). Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) kloter 026.

52. Emuh Sutrisna Atmadja bin Wardi (79). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 008.

53. Ali bin Lapantje Lakoro (77). Embarkasi Balikpapan (BPN) kloter 011.

54. Cholik bin Aguscik Usman (65). Embarkasi Palembang (PLM) kloter 005, B3343307.

55. Marfuah Amina Toyib binti Mustofa (76). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) kloter 34.

56. Nipi binti Mad Ambri Mungkar (69). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) kloter 34.

57. Hawang binti Bungku Ilham (59). Embarkasi Balikpapan (BPN) kloter 007.

58. Boniatun binti Dulkahir Kartak (60). Embarkasi Batam (BTH) kloter 17.

59. Hariri bin Mustafa M. Soleh (73). Embarkasi Jakarta - Pondok Gede (JKG) kloter 37.

60. Dain Nariya bin Satimin (69). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) kloter 29.

61. Rosid bin Kamadi Rani (63). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) kloter 061.

62. Muhammad Arifin bin Ambo Angka (58). Jemaah haji khusus

63. Zuri Mukanan bin Muhrin Kasrih (66). Jemaah haji khusus

64. Wawan Barnawi K bin Casmita (62). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) kloter 036.

65. Sikan bin Bait Sabut (59). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 005.

66. Nana Supena bin Uba R (64). Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) kloter 010.

67. Budiyanto bin Lihan Suliman (57). Embarkasi kloter Surabaya (SUB) kloter 026.

68. Suhaimi bin Jamain Abdul Gafur (62). Embarkasi Padang (PDG) kloter 009.

69. Agus Slamet Riyadi bin Cokrowasito (62). Jemaah haji khusus.

70. Munawwaroh binti Muslih Simin (66). Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG) kloter 020.

71. Darmuya bin Jabar Bila (79). Embarkasi Padang kloter 011.

72. Sofyan Soleh Jamhari binti H.M Sohe (74). Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG) kloter 007.

73. Sumi binti Sahrul Towasi (80). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 003.

74. Nur Wachid bin Abdul Majid Samsul (68). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 025.

75. Sahriye binti Sulaiman Kaima (71). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 017.

76. Sulkan bin Satiman Lasijah (57). Embarkasi Solo (SOC) kloter 063.

77. Sariyana Ganing P binti Laganing (73). Jemaah haji khusus.

78. Djunaide bin Masse Bandu (71). Jemaah haji khusus.

79. Sawi bin Saidin Armidin (73). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 017.

80. Jamhari bin Arip Ardiah (83). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 021.

81. Endah Wirdah binti Sukemi Harja. Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 038.

82. Mariyah Komar binti Umar Martawidjaja. Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) kloter 031.

83. Aen Harmaen bin Suhandi Suhatma (66). Jemaah haji khusus.

84. Ripah binti Ardja Semita (67). Embarkasi Solo (SOC) kloter 056.

85. Sumitro bin Chambali Moh. Sidik (80). Embarkasi Solo (SOC) kloter 036.

86. Nur Pudjimas Saleh bin Muhammad Nur (70). Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG) kloter 027.

87. Rasta Wangsa Mihardja bin P Sayan (80). Embarkasi Solo (SOC) kloter 053.

88. Namin bin Artamin Senang (79). Embarkasi Banjarmasin (BDJ) kloter 013.

89. Badrijanto bin Darmodipuro Kartowijoto (71). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 008.

90. Sanipah binti Kawi Soleh (76). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 030.

91. Sarah binti Marjuki Sere (84). Embarkasi Jakarta Pondok (JKG) kloter 033.

92. Sukro bin Gimin Sali (71). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 039.

93. Sangkut bin Yasin Saguk (60). Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) kloter 023.

94. Sutadji bin Taredjo Sabar (85). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 034.

95. Roemijatoen binti Mariso Kromorejo (69). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 028.

96. Djumirah binti Karto Temon (82). Embarkasi Solo (SOC) kloter 024.

97. Dimanto bin Sono Dikromo (72). Embarkasi Medan (MES) kloter 017.

98. Mani binti Mamak Isma (49). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 016.

99. Jukih binti Tiyul Kemat (72) Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 029.

100. Moh. Choliq Atmowisastro bin Hanafi (71). Embarkasi Surabay (SUB) kloter 057.

101. Kadi bin Sanggem Suro (63). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 046.

102. Ramly Sudirman bin Marsudin Mile (60). Embarkasi Makassar (UPG) kloter 022.

103. Huriah binti Abdul Rasyid (62). Embarkasi Lombok (LOP) kloter 002.

104. Robiah binti Ahmad Dirsad (74). Embarkasi Solo (SOC) kloter 059.

105. Mansur bin Mahtar Mutholib (63). Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) kloter 026.

106. Buchari bin Abu Bakar Soleh (80). Embarkas Surabaya (SUB) kloter 009.

107. Moch. Busro bin Achmad Zawawi (50). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 021.

108. Sumila binti Atemo Pawiro (64). Embarkasi Solo (SOC) kloter 060.

109. Hasyim bin Idi Asyari (60). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 042.

110. Halimah binti Sulaiman Hasibuan (58). Embarkasi Medan (MES) kloter 002.

111. Nisih binti Sumitro Kurdi (71). Embarkasi Solo (SOC) kloter 005.

112. Syaipul bin Yusuf (66). Embarkasi Padang (PDG) kloter 002.

113. Ramli bin Abdul Aziz Banta (67). Embarkasi Aceh (BTJ) kloter 007.

114. Asjhari bin Syafii Karim (82). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 027.

115. Anih binti Abas Adromi (46). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 047.

116. Musbitun binti Resodiharjo (71). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 025.

117. Shahabuddin bin Abuya H Mansur. Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 060.

118. Hozain Effendi bin Wahab Yasim (72). Embarkasi Palembang (PLM) kloter 009.

119. Kartini Winangsih binti Eben (71). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 025.

120. Siti binti Muhammad Raiman Burjek (79). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 052.

121. Suparmono bin Wiria Sastra (64). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 063.

122. Siti Ropiah binti Watas Karsiman (86). Embarkasi Solo (SOC) kloter 052.

123. Hadi Mulyanto bin Atemo (58). Jemaah haji khusus.

124. Shinta Luneira binti Lukman Ibrahim (43). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 067.

125. Nursaida binti Juaro Harahap (42). Embarkasi Medan (MES) kloter 001.

126. Siti Hasniah binti Basirong (62). Embarkasi Makassar (UPG) kloter 011.

127. Miun bin Naran Sanim (56). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 016.

128. Dahlan bin Kasma Aslim (69). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 005.

129. Rahmah binti Imam Pardi (69). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 022.

130. Sudarsih binti Mulyo Taruno (57). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 020.

131. Sudiyono bin Walijo Wongsodikromo (61). Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) kloter 008.

132. Taharudin bin Sahed Ahmad (59). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 001.

133. Bahtiar bin Anwar Buttu (56). Embarkasi Makassar (UPG) kloter 005.

134. Sukasmi binti Somo Wigeno (71). Embarkasi Solo (SOC) kloter 035.

135. Sidek bin Mappiase Paddai (66). Jemaah haji khusus

136. Mudjiran bin Samingun Karyadi (76). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 023.

137. Jaya bin Sanadi Masiyan (68). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 044.

138. Empat Suparti binti Saleh (64). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 058.

139. Asih binti Hamdi H. Husin (63). Jemaah haji khusus.

140. Nastangin bin Tjakra Pawira (80). Embarkasi Solo (SOC) kloter 034.

141. Titi Hodidjah binti Bahrum (62). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 003.

142. Muhamat Subhan bin Mastur Masud (45). Embarkasi Solo (SOC) kloter 004.

143. Asni binti Kamil Tamin (63). Embarkasi Batam (BTH) kloter 017.

144. Sairoh bin Usman Dulhamid (52). Jemaah haji khusus.

145. Retno Sri Suhamani bin M. Soebandi (57). Embarkasi Solo (SOC) kloter 62.

146. Nursi binti Bunga Baba (54). Embarkasi Makassar (UPG) kloter 008.

147. Mohammad Aminin bin H Imam Rofii (70). Embarkasi Surabaya (SUB) klter 059.

148. Saadi bin Khasan Rasmun (83). Embarkasi Solo (SOC) kloter 002.

149. Nurdiyah binti Irsyad Sahib (72). Embarkasi Solo (SOC) kloter 050.

150. Taisma binti Abdul Malik Sihombing (52). Embarkasi Medan (MES) kloter 002.

151. Jasid bin Masjen Santari (63). Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) kloter 038.

152. Suparman bin H Saim Radimin (69). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 069.

153. Mahmud bin Tordjo Rubanu (67). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 062.

154. Unah Inayah binti Akhsan (59). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 051.

155. Ambrin bin Achmad Iking (75). Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) kloter 045.

156. Fatimah bint Muhammad Sabi (84). Embarkasi Aceh (BTJ) kloter 001.

157. Dakirun bin Kholidin Sanmufid (61). Embarkasi Solo (SOC) kloter 053.

158. Iskandar bin Rangrang Palwangi (88). Embarkasi Balikpapan (BPN) kloter 012.

159. Jakob Mulja Atmadja bin Abu Zakaria (78). Embarkasi Solo (SOC) kloter 035.

160. Kardiwansyah bin Usmin Tawang (61). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 050.

161. Elyati binti Abdul Rohim (51). Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) klote 015.

162. Muhammad Hilman bin Abu Bakar (61). Jemaah haji khusus

163. Khalida Emma binti Mach Arrasyid (37). Embarkasi Aceh (BTJ) kloter 007.

(Red. Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw IMNU, Humor Islam, Sejarah Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

LBMNU Bogor Serukan Penguatan Relasi Islam-Sunda

Bogor, Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Guna membentengi NKRI dari ancaman paham radikal dan liberal yang kian marak, Lembaga Bahsul Masail Nahdlatul Ulama Kabupaten Bogor mengajak warga Nahdliyin untuk memperkuat kembali relasi Islam dan kearifan lokal.

Sekretaris LBM NU Kabupaten Bogor Ustadz Ahmad Idhofi mengatakan, NKRI bersatu karena budaya. Islam mengakar kuat di Indonesia juga karena budaya. “Islam dapat diterima secara terbuka oleh masyarakat Sunda karena adanya akulturasi. Islam dan budaya Sunda dapat hidup berdampingan,” kata Idhofi di Bogor, Rabu (25/1).

LBMNU Bogor Serukan Penguatan Relasi Islam-Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)
LBMNU Bogor Serukan Penguatan Relasi Islam-Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)

LBMNU Bogor Serukan Penguatan Relasi Islam-Sunda

Sebelumnya pada Ahad (22/1), ia menggagas kegiatan “Tawassul dan Napak Tilas Sejarah dan Relasi Islam- Sunda” di Pesantren Nurul Iman Al-Hasanah, Jalan Karacak KM 03, Kampung Geledug, Desa Barengkok, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor.

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Idhofi mengutarakan, penyebaran Islam di tatar Sunda tidak terlepas dari peran Maharaja Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran Prabu Siliwangi, bertahta pada 1482-1521 M. Ia berperan besar dalam proses Islamisasi Bogor maupun tatar Sunda umumnya.

“Semua kerajaan di tatar Sunda dan mayoritas ulama besar Sunda merupakan anak cucu keturunan Prabu Siliwangi,” papar alumnus program S2 Pascasarjana UIKA Bogor ini.

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw

Ketua MWC NU Kecamatan Leuwisadeng Baejuri mengatakan, orang Sunda identik dengan Islam. Ada istilah Islam itu Sunda, Sunda itu Islam. Hal ini berkat perjuangan para ulama dan pemimpin masa silam.

Ahmad Fahir menyampaikan, sejarah perjumpaan Islam dengan Sunda terbilang sangat panjang. Bahkan Islam masuk wilayah Sunda jauh sebelum era Wali Songo pada abad ke-15 dan 16, yang juga dikenal sebagai puncak Islamisasi Nusantara.

“Syaikh Quro mendirikan pesantren pertama di Nusantara sebelum era Wali Songo. Ia memiliki andil besar dalam mengislamkan Prabu Siliwangi dan menjadikan dinastinya di Kerajaan Pajajaran (terutama dari garis isteri Subang Larang Cirebon) dan dari garis Kerajaan Talaga sebagai aktor utama penyebaran Islam tatar Sunda,” kata Fahir.

Wilayah tatar Sunda dimaksud kini masuk dalam sejumlah provinsi, yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten dan wilayah barat Jawa Tengah.

Islam diperkirakan telah masuk tatar Sunda sejak awal abad 12, seperti dikisahkan babad Pamijahan, Tasikmalaya. Pada abad 17, seorang ulama besar bernama Syaikh Abdul Muhyi, melakukan napak tilas bertahun-tahun mencari goa safar wadi peninggalan Syaikh Abdul Qodir al-Jailani saat berguru ke Syaikh Sanusi pada abad 12.

“Islam berkembang pesat tatar Sunda karena berdampingan dengan budaya Sunda. Masyarakat menerima Islam secara terbuka, dan tetap melestarikan budaya,” katanya.

Ustadz Zulfiqor, pengurus MUI Kabupaten Bogor menambahkan, kegiatan tersebut dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang relasi Islam-Sunda.

“Banyak sejarah Islam Sunda yang masih misteri dan belum terungkap karena kekurangan literatur. Tugas kita untuk menggalinya, agar dapat memahami sejarah secara utuh,” tutur mantan ketua IPNU Cabang Kabupaten Bogor ini.

Pesantren Pesantren Nurul Iman Al-Hasanah didirikan KH Supendi pada 1993 dan mengelola SMP, MTs, SMK, MA, dan perguruan tinggi, dengan total santri lebih dari seribu orang.

Kegiatan tersebut menghadirkan aktivis NU dan pegiat budaya Sunda Ahmad Fahir, diikuti 50 orang alumni, mahasiswa, dan guru Pesantren Nurul Iman Al-Hasanah; utusan MWCNU Kecamatan Leuwiliang, guru SMP Ma’arif NU Cilebut, dan pengurus MUI Kabupaten Bogor. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw Halaqoh, Sunnah, Bahtsul Masail Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw