“Seluruh cabangnya sama. Tapi kini, di JQH, ada pengembangan cabang tambahan, yaitu qiroatul kutub, pembacaan kitab kuning dan ulumul Qur’an,” ujar anggota dewan juri MTQ JQH NU, Hj. Maslahah Zen.
| MTQ JQH NU Gunakan Bacaan Riwayat Tujuh Imam (Sumber Gambar : Nu Online) |
MTQ JQH NU Gunakan Bacaan Riwayat Tujuh Imam
Lalu, sambung dewan juri cabang tahfidh 5 juz ini, ada perbedaan dalam sistemnya. Dalam cabang tilawah dewasa misalnya, kalau di LPTQ, tidak ada cara pembaacaan Al-Quran imam-imam lain.Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw
“Kalau di JQH mengembangkan pembacaan Al-Quran dengan dengan tujuh riwayat. Bedanya di situ,” tambahnya.Selain itu, di JQH, ayat yang mesti dibaca peserta, iramanya sudah ditentukan panitia, “Peserta mengambil maqro melalui amplop. Di situ ditentukan oleh panitia. Kalau LPTQ peserta menentukan sendiri lagunya. Peserta bebas yang menenntukan,” tuturnya.
Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw
Hj. Rofiatu Sa’adah dari Kepulauan Riau menjelaskan lebih rinci, “Jadi begini, kalau di LPTQ, yang ditentukan ayatnya, lagunya terserah peserta. Tapi kalau di JQH, ayat sama lagunya sudah ditentukan bahwa kamu misalnya harus membawakan lagu hejaz, shaba. Sudah sepaket. Bisa, tidak bisa; suka, tidak suka, peserta otomatis harus menempilkannya,” tuturnya.Contoh, sambung Rofiah yang juga pengurus JQHNU Kepri, peserta mendapat ayat riwayat Qolun yang bisa dibaca dengan tiga wajah. Ketiganya harus disertakan dengan lagu yang sudah ditentukan. Jadi, peserta berulang-ulang membaca satu ayat dengan cara membaca yang berbeda-beda.
“Menurut saya pribadi, peserta MTQ di JQH harus lebih siap dan berbobot karena tingkat keilmuannya juga harus lebih berbobot. Diterapkan seperti itu, dikarenakan pesertaJQH kan mayoritas dari pesantren,” ujarnya.
Tapi, menurut Rofiah, dengan sistem demikian, peserta banyak yang keberatan. Namun bukan berarti kualitas mereka yang kurang, tapi penguasaan keilmuan yang belun siap.
Redaktur : A. Khoirul Anam
Penulis : Abdullah Alawi
Dari Nu Online: nu.or.id
Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw Pondok Pesantren, Cerita, Kajian Islam Ustadz Felix Siauw Official Blog Resmi Felix Siauw
Tidak ada komentar:
Posting Komentar